IQ Test
387 Views
Mon, 17 Sep 2007 at 01:14 pm
Got (less than) 40 minutes to spare? Why not taking this interesting test at http://iqtest.dk/ ?

With my result above (which includes the outcome of several of my answers that were just pure guess
), it strengthen my believe that evaluating one’s level of intelligence can NEVER be performed by a test lasted for only 10 minutes, 30 minutes, 1 hour, or even 1 day. And also, I consider intelligence without ‘fruitfulness’ ( e.g. use it to improve or help the lifes of others’ ) is meaningless. Intelligence is necessary –no doubt about that– but it is NOT THE ONLY necessary thing to have.
Nevertheless, the test is fun to take, you should give it a shot.
This entry was posted in category: me, web-walk.
Last modification was on Monday, 17 Sep 2007 at 01:15 pm
Last modification was on Monday, 17 Sep 2007 at 01:15 pm
2 Comments »
#1
Roswita's comment on Mon, Oct 15, 2007 at 09:30 pm #
Pas baca blog ini, saya benar2 gatal pengen nulis comment
I’m studying the aptitude test this semester (where intelligence include in it) and that makes me curious in taking this test. Opini saya pribadi, tes ini mewakili pengertian intelegensia secara umum yaitu kemampuan mencari hubungan, baik antara hal-hal yang kongkret maupun abstrak. Saya sedang mempelajari Intelligence Structure Test tahun 70 dari Rudolf Amthauer. Tes ini menjadi tes intelligence yang banyak dipakai di seluruh dunia. Tes untuk mencari hubungan seperti tes online ini, hanya menjadi 1 set dari 9 set tes IST-70. IST 70 terdiri dari tes-tes dengan soal-soal mencari hubungan dalam kemampuan verbal, kemampuan berhitung dan daya bayang ruang.
Pengerjaan tes psikologi pada dasarnya tidak sembarangan dan harus di-conduct dengan sangat hati-hati ketika pengambilan data berlangsung.Hal ini yang sebenarnya saya pertanyakan dari tes-tes online seperti ini, dimana pengambilan data tidaklah dikondisikan seperti kondisi pengambilan data psikologi yang dapat dipertanggungjawabkan
Dan untuk mengartikan suatu nilai IQ tidaklah se-mudah yang dibayangkan.Hanya seorang psikolog (yang notabene merupakan gelar master), yang berhak memberikan interpretasi terhadap nilai2 tes psikologi. Sehingga dapat dibayangkan bahwa betapa nilai2 tes itu tidak semudah itu dapat dijadikan judgement.
And I’m so agree with your “fruitfulness” concept. IQ ibarat ragi yang menjadi bahan dasar roti. Ragi yang baik akan menghasilkan roti yang baik. Tapi masih banyak hal yang dibutuhkan dan dilalui untuk menjadikan ragi menjadi roti
And that’s what you say IQ is NOT THE ONLY necessary thing to have..
Duh kok jadi curhat? saya udah nyerah nulis dalam bahasa inggris. Jadi aja dalam bahasa Indonesia. Hehehe.. tapi intinya memang jangan minder kalo punya IQ pas-pas an dan jangan juga jadi sombong kalo punya IQ tinggi. Meskipun sangat menentukan, IQ hanya satu dari sekian hal yang menentukan siapa diri kita
dan karena IQ punya banyak variabel, berkompetisi dalam mencapai IQ paling tinggi pada dasarnya bukan hal yang paling esensial. Setiap variabel punya nilai dan “kebaikan” nilai setiap variabel pun bersifat kontekstual.
I’m studying the aptitude test this semester (where intelligence include in it) and that makes me curious in taking this test. Opini saya pribadi, tes ini mewakili pengertian intelegensia secara umum yaitu kemampuan mencari hubungan, baik antara hal-hal yang kongkret maupun abstrak. Saya sedang mempelajari Intelligence Structure Test tahun 70 dari Rudolf Amthauer. Tes ini menjadi tes intelligence yang banyak dipakai di seluruh dunia. Tes untuk mencari hubungan seperti tes online ini, hanya menjadi 1 set dari 9 set tes IST-70. IST 70 terdiri dari tes-tes dengan soal-soal mencari hubungan dalam kemampuan verbal, kemampuan berhitung dan daya bayang ruang.
Pengerjaan tes psikologi pada dasarnya tidak sembarangan dan harus di-conduct dengan sangat hati-hati ketika pengambilan data berlangsung.Hal ini yang sebenarnya saya pertanyakan dari tes-tes online seperti ini, dimana pengambilan data tidaklah dikondisikan seperti kondisi pengambilan data psikologi yang dapat dipertanggungjawabkan
Dan untuk mengartikan suatu nilai IQ tidaklah se-mudah yang dibayangkan.Hanya seorang psikolog (yang notabene merupakan gelar master), yang berhak memberikan interpretasi terhadap nilai2 tes psikologi. Sehingga dapat dibayangkan bahwa betapa nilai2 tes itu tidak semudah itu dapat dijadikan judgement.
And I’m so agree with your “fruitfulness” concept. IQ ibarat ragi yang menjadi bahan dasar roti. Ragi yang baik akan menghasilkan roti yang baik. Tapi masih banyak hal yang dibutuhkan dan dilalui untuk menjadikan ragi menjadi roti
And that’s what you say IQ is NOT THE ONLY necessary thing to have..
Duh kok jadi curhat? saya udah nyerah nulis dalam bahasa inggris. Jadi aja dalam bahasa Indonesia. Hehehe.. tapi intinya memang jangan minder kalo punya IQ pas-pas an dan jangan juga jadi sombong kalo punya IQ tinggi. Meskipun sangat menentukan, IQ hanya satu dari sekian hal yang menentukan siapa diri kita
dan karena IQ punya banyak variabel, berkompetisi dalam mencapai IQ paling tinggi pada dasarnya bukan hal yang paling esensial. Setiap variabel punya nilai dan “kebaikan” nilai setiap variabel pun bersifat kontekstual.
#2
dede's comment on Fri, Nov 9, 2007 at 04:02 pm #
akhirnya ikutan nyobain testnya
hihi..
Tapi, alhamdulillah.. makasih diingetin ya wita… “jangan minder kalo punya IQ rendah dan jangan juga gadi sombong kalo punya IQ tinggi”
hihi..
Tapi, alhamdulillah.. makasih diingetin ya wita… “jangan minder kalo punya IQ rendah dan jangan juga gadi sombong kalo punya IQ tinggi”
